Minggu, 10 Mei 2015
MODEL PEMBELAJARAN ASSISOMPUNGENG/PARENTING PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
A. Gambaran Model Assisompungeng (Parenting)
(Kesinambungan Lembaga PAUD dan Keluarga)
1. Pengertian
a. Model “Assisompungeng” (Kesinambungan Pendidikan di Lembaga PAUD dan di Keluarga) adalah merupakan model pendidikan keorangtuaan (Parenting), yang menyinambungkan pendidikan di lembaga PAUD dengan pendidikan anak dalam keluarga. Orangtua diberikan pembekalan dan kegiatan mengenai PAUD sehingga pembelajaran yang didapatkan anak di lembaga PAUD dapat pula dilanjutkan oleh orangtua di rumah sehingga terjadi kesinambungan antara program di lembaga PAUD dengan pembinaan yang diterima anak di keluarganya masing-masing.
Kata “Assisompungeng” itu sendiri berasal dari bahasa Bugis yang berarti “kesinambungan”. Dengan adanya program yang diselenggarakan untuk orangtua, baik berupa kegiatan di rumah maupun kegiatan orangtua di lembaga PAUD, maka diharapkan akan terjadi persamaan persepsi antara orangtua (keluarga) dan pendidik dalam mendidik anak.
Untuk tahap awal, kesinambungan proses replikasi model ini diharapkan dapat menyatukan persepsi antara guru/pendidik dan orangtua (keluarga) tentang konsep pendidikan anak usia dini, pertumbuhan dan perkembangan, stimulasi perkembangan anak usia dini, komunikasi dalam pengasuhan anak usia dini, kesehatan dan gizi anak usia dini, sehingga tujuan yang diharapkan dari orangtua dan pendidik yaitu pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini yang optimal dapat dilaksanakan, baik di lembaga PAUD maupun dalam keluarga.
b. Orangtua yang dimaksud dalam lingkungan keluarga anak adalah orang-orang dewasa yang ada di sekitar anak yaitu mencakup orangtua anak itu sendiri, Tante, Paman, pengasuh, kakek dan nenek, serta orang dewasa lainnya yang serumah dengan anak.
2. Unsur yang terlibat
a. Keluarga
Yaitu orangtua/anggota keluarga lain yang memiliki anak/yang mengikuti pembelajaran di Lembaga PAUD (TK/KB/TPA).
b. Pendidik/Guru
Yaitu Pendidik/Guru PAUD yang merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan pembelajaran di Lembaga PAUD yang melibatkan orangtua/keluarga.
c. Penyelenggara/Pengelola
Yaitu Lembaga/perorangan yang menyelenggarakanPAUD di masyarakat (TK/KB/TPA).
d. Pendamping/Tenaga Teknis
Yaitu Pamong Belajar SKB/BPKB yang bertugas untuk melaksanakan KBM, Pengkajian dan Pengembangan Model, namun dalam pelaksanakan kegiatan ini, bertugas untuk mengobservasi pelaksanaan, dan melaporkan hasil-hasil temuan dalam replikasi model.
3. Sarana Prasarana
a. Bahan ajar Konsep Dasar PAUD yang diberikan kepada orangtua/keluarga tentang yaitu :
Konsep dasar PAUD
Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini
Pengasuhan anak dalam keluarga
Komunikasi anak usia dini
Perawatan, gizi, dan kesehatan anak usia dini
b. Media/alat peraga yang dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilan orangtua dalam menumbuhkembangkan kemampuan anak, sesuai dengan kebutuhan tema yang sedang berlangsung.
c. Buku-buku dengan berbagai topik tentang anak usia dini, panduan cara membuat APE, dan lain-lain yang ditempatkan di sentra orangtua.
d. Tempat belajar adalah lembaga PAUD yang menerapkan model ini atau tempat lainnya yang menjadi kesepakatan antara pendidik/pengelola dan orangtua anak, serta rumah para orangtua yang menjadi sasaran model.
4. Kegiatan Yang Dilaksanakan dalam Program Parenting Assisompungeng
“Kesinambungan Pendidikan Di Lembaga PAUD Dan di Keluarga”
Pembelajaran bagi Anak
Kegiatan pembelajaran di lembaga PAUD dilaksanakan setiap hari melalui kegiatan belajar melalui bermain, pembelajaran tetap mengacu pada standar PAUD yang tercantum pada Permendikbud No. 137 tahun 2014. Kemudian kegiatan dilanjutkan di rumah oleh orangtua/keluarga, menyesuaikan tema yang sedang berlangsung di lembaga PAUD. Secara umum program pembelajaran mengembangkan :
a) Bidang pembentukan perilaku :
1. Nilai moral agama (mengenal ciptaan Tuhan, sikap, moral)
2. Sosio emosional (sosial bermasyarakat, disiplin, suka dan duka)
b) Bidang kemampuan dasar
1. Kognitif (pengenalan lingkungan, kebutuhan)
2. Bahasa (komunikasi, identitas diri, konsep bentuk, bilangan, warna dan letak)
3. Fisik/motorik kasar dan halus (gerakan jasmani dan keterampilan, keseimbangan, kelincahan, kecepatan, kelenturan, koordinasi mata dan tangan dan ketepatan, melipat, menggambar/melukis, menggenggam, menggunting dan menjahit).
4. Seni
Kegiatan Inti Model
1. Pertemuan Berkala
Langkah-langkah pelaksanaan :
- Pertemuan berkala dimulai dengan pertemuan umum antara pihak lembaga PAUD dan orangtua. Undangan atau penyampaian informasi tentang pertemuan tersebut diberikan pada saat orangtua mengembalikan formulir pendaftaran.
- Pada pertemuan umum tersebut dijelaskan mengenai rencana-rencana pembelajaran yang akan diberikan kepada anak selama satu tahun ke depan atau setidaknya selama satu semester ke depan.
- Sosialisasi tentang adanya program yang diselenggarakan oleh lembaga PAUD yang melibatkan orangtua dalam pembinaan anak di lembaga PAUD, seperti pertemuan berkala para orangtua, kunjungan rumah pendidik ke rumah anak, mengobservasi kegiatan anak di lembaga PAUD, sentra orangtua, surat dan catatan (kartu penghubung) pendidik kepada orangtua, serta penggunaan telekomunikasi dalam berkomunikasi dengan orangtua anak.
- Pertemuan berkala dilakukan secara periodik sekali dalam sebulan atau sesuai kesepakatan dengan orangtua. Pertemuan berkala diisi dengan sharing informasi/materi bahan ajar kepada orangtua tentang: (1) Konsep dasar PAUD; (2) Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini; (3) Pengasuhan anak dalam keluarga; (4) Komunikasi anak usia dini; (5) Perawatan, gizi, dan kesehatan anak usia dini; serta tingkat pencapaian perkembangan anak
- Materi-materi bahan ajar tersebut diberikan secara bertahap, untuk menambah wawasan mereka tentang PAUD. Dengan demikian diharapkan ada persamaan persepsi tentang bagaimana mendidik dan menghadapi anak sehingga tak terjadi pertentangan antara pendidikan di lembaga PAUD dan di rumah.
- Berbagai informasi mengenai materi bahan ajar dapat dilakukan oleh pamong belajar atau narasumber lainnya yang berkompeten.
- Dalam pertemuan tersebut dapat dibahas mengenai apa yang akan dan telah diberikan pada anak, serta apa yang diharapkan orangtua dapat dilaksanakan di rumah.
2. Kunjungan Rumah
Langkah-langkah pelaksanaan :
Meskipun tidak umum, kunjungan rumah masih merupakan alat yang penting untuk menjalin hubungan yang solid antara orangtua dan pendidik. Beberapa orangtua jauh lebih nyaman di rumah sendiri daripada di sekolah. Akan tetapi, pendidik haruslah sensitif terhadap kenyataan bahwa beberapa orangtua mungkin merasa tidak nyaman dan terganggu menerima kunjungan rumah dari pendidik, untuk sejumlah alasan. Dalam kunjungan rumah dapat diperoleh informasi mengenai anak, orangtua, dan lingkungan rumah anak. Konsekuensinya adalah kunjungan rumah membutuhkan investasi waktu dan tenaga. Kunjungan rumah ini dapat dilakukan minimal sekali selama anak menjadi peserta didik di lembaga PAUD.
Jika kunjungan rumah dapat diatur sebelum sekolah dimulai, anak dan pendidik dapat saling kenal secara perseorangan sebelum memiliki hubungan satu sama lain dalam bentuk kelompok. Orangtua juga akan menghargai pertemuan dengan pendidik sebelum sekolah dimulai dan memiliki suatu kesempatan untuk bertanya tentang program di lembaga PAUD dan mendiskusikan harapannya bagi anak-anak mereka.
Kunjungan rumah dapat berjalan efektif jika pendidik merencanakan dan menyiapkannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kunjungan rumah adalah:
1. Jadwalkan kunjungan rumah dengan baik sebelumnya. Kirimkan surat untuk mengingatkan tentang jadwal kunjungan rumah. Informasikan kepada orangtua berapa lama kunjungan yang ingin dilakukan oleh pendidik. Upayakan datang dan pulang tepat waktu.
2. Yakinkan bahwa orangtua mengetahui tujuan kunjungan rumah dan orangtua untuk tidak perlu memberikan persiapan khusus untuk kunjungan rumah pendidik.
3. Jadilah tamu yang ramah. Jika orangtua menawarkan makanan dan minuman, terimalah dengan sopan. Hormatilah orangtua sebagai tuan rumah.
4. Janganlah membuat penilaian yang cepat terhadap lingkungan rumah anak. Jika lingkungan fisik tidak sesuai dengan bayangan pendidik tentang sebuah rumah, janganlah langsung menyimpulkan bahwa rumah tersebut bukanlah lingkungan yang baik buat anak.
5. Bersiaplah untuk membicarakan program dan rencana pendidik terhadap anak dalam sikap informal. Pendidik hendaknya mendengarkan, bertanya, dan mendengar lebih banyak.
Pendidik dapat membawa sesuatu saat mereka berkunjung, seperti bahan untuk membuat papan nama anak, kamera untuk memfoto anak, album foto kegiatan tahun-tahun sebelumnya, boneka, puzzle kayu, buku yang dapat dikembalikan ke kelas nantinya, atau kertas dan krayon untuk menggambar. Membawa sesuatu yang dapat membuka kegiatan berbagi informasi dan peluang untuk observasi (Johnston dan Mermin 1995).Juga berguna bagi pendidik untuk membawa lembar informasi untuk orangtua yang berisi nama dan nomor telepon pendidik, kalender pendidikan yang telah diberi tanda pada hari libur dan kegiatan khusus, informasi tentang makanan ringan jika orangtua akan memberikannya kepada anak, dan daftar peraturan tentang perayaan ulangtahun dan tentang membawa sesuatu untuk dibagikan ke sekolah.
Pendidik dapat juga membawa daftar bahan-bahan atau barang-barang bekas yang dibutuhkkan di lembaga PAUD seperti karton, kotak makanan, berbagai macam mor dan baut, tempat makan bayi, kuas cat bekas, potongan kayu, tutup botol, majalah bekas, dan lain sebagainya.Selama kunjungan rumah, pendidik dapat mendiskusikan minat dan kebutuhan khusus anak, masalah kesehatan atau alergi yang pendidik perlu waspadai, dan harapan orangtua terhadap anak di lembaga PAUD. Jika memungkinkan, pendidik dapat pula berdiskusi tentang bagaimana orangtua dapat terlibat dalam program. Orangtua mungkin ingin tahu mengenai latar belakang, diklat, dan pengalaman pendidik. Pendidik seharusnya bersiap untuk mendiskusikan program, bagaimana keputusan dibuat dalam hal apa yang akan dipelajari anak, dan bagaimana ia merencanakan untuk menegakkan masalah disiplin.
Jika pendidik tak dapat mengunjungi dua atau tiga orangtua di rumah, maka pendidik dapat mengundang mereka dalam pertemuan khusus di lembaga PAUD, dimana ia berbagi informasi apa yang ingin disampaikan pada kunjungan rumah. Kieff (1990) menemukan bahwa orangtua lebih menyukai pertemuan dengan pendidik dalam kelompok kecil. Orangtua ini tak merasa nyaman dalam pertemuan orangtua dalam jumlah banyak dan formal.Hubungan yang nyata antara lembaga PAUD dan orangtua adalah sangat mungkin jika kedua belah pihak percaya bahwa pihak lain memiliki sesuatu yang berharga untuk dibawa ke dalam hubungan tersebut, bahwa tujuan umumnya adalah untuk kepentingan anak, dan bahwa ada rasa untuk berbagi tanggungjawab (Workman dan Gage, 1997).
3. Observasi Orangtua
Langkah-langkah pelaksanaan :
Orangtua dapat dilibatkan dalam mengamati anak mereka dalam berkegiatan di lembaga PAUD. Lembaga PAUD dapat mengirimkan undangan khusus kepada setiap orangtua untuk datang ke sekolah pada hari yang telah ditentukan. Undangan diberikan beberapa minggu sebelum pertemuan dimulai. Dalam undangan dijelaskan bahwa jika orangtua tak dapat datang pada hari tersebut, maka mereka dapat datang kapan saja. Orangtua dapat diundang untuk berkunjung saat anak terlibat dalam kegiatan kelompok sehingga mereka dapat mengamati tingkah anak mereka dalam kegiatan berkelompok. Daripada melihat anak dalam pertunjukan, disarankan untuk meminta orangtua berkunjung saat anak terlibat dalam kegiatan formal di kelas, seperti menyanyi, memainkan alat musik, atau bermain peran. Kegiatan ini tak menuntut anak untuk berlatih akan tetapi sangat memungkinkan bagi orangtua untuk merasa nyaman akan kemampuan anak-anak mereka.
Pendidik dapat mempersiapkan pedoman observasi untuk orangtua (terlampir) sehingga mereka dapat melihat beberapa aspek penting terkait program selama kunjungan mereka. Hal-hal yang perlu menjadi perhatian pendidik dalam pengamatan orangtua ini adalah:
Mengumpulkan semua informasi (seperti penilaian, contoh pekerjaan anak, portofolio, catatan anekdot, ceklis, dan lain sebagainya)
Mengundang orangtua untuk mengemukakan perubahan-perubahan yang teramati sejak pertemuan terakhir; catatlah komentar-komentar tersebut.
Bagilah informasi yang terkumpul kepada orangtua
Mintalah masukan dari orangtua terkait dengan tujuan pembelajaran untuk periode pembelajaran berikutnya.
Berterimakasih kepada orangtua untuk perhatian dan pengamatannya.
4. Sentra Orangtua
Langkah-langkah pelaksanaan :
Sentra orangtua merupakan tempat berkumpulnya orangtua anak selama menunggu anaknya mengikuti kegiatan di lembaga PAUD. Sebuah sentra orangtua di sudut ruang kelas dapat membantu orangtua untuk merasa bahwa mereka penting dan dibutuhkan. Sebuah meja dan papan tulis kecil di dinding juga perlu untuk disiapkan di sentra orangtua tersebut. Orangtua dapat menggunakan papan tulis tersebut untuk saling berkomunikasi. Pendidik dapat memajang foto orangtua saat bekerjasama dengan anak atau saat membuat sesuatu atau permainan di kelas, mengumumkan kegiatan-kegiatan yang diminati keluarga, menulis benda-benda/bahan-bahan yang dibutuhkan di kelas, dan lain sebagainya.
Menyediakan buku-buku sebagai perpustakaan mini untuk orangtua, fotokopi artikel dan buku yang mungkin berguna bagi orangtua, pamflet, majalah, dan brosur berbagai topik, dan bahan bacaan lainnya, dapat disediakan di sentra orangtua. menyatakan bahwa membuat ruang untuk orangtua merupakan komponen penting dalam program keterlibatan orangtua.
5. Surat dan Catatan (Kartu Penghubung)
Langkah-langkah pelaksanaan :
Surat, catatan, maupun kartu penghubung antara pendidik dan orangtua merupakan salah satu komunikasi yang dapat dilakukan. Orangtua akan menghargai surat yang memberikan informasi tentang program sekolah dan khususnya tentang anak mereka. Pendidik dapat mengirimkan surat yang isinya diantaranya dapat berupa saran kepada orangtua yang dapat mereka lakukan di rumah untuk melengkapi apa yang telah dipelajari anak di sekolah. Menambahkan catatan pribadi tentang anak pada catatan kaki surat membuat hal ini bahkan lebih efektif. Catatan singkat yang memberikan informasi tentang kemajuan anak adalah cara penting untuk membiarkan orangtua mengetahui apa yang menjadi perhatian pendidik terhadap anak-anak mereka.
Setiap hari (atau waktu-waktu tertentu) pendidik memberikan catatan kepada orangtua melalui anak yang berisi catatan tentang tema dan kegiatan yang diberikan kepada anak pada hari itu dan orangtua diharapkan untuk memberikan stimulasi kepada anak terkait dengan kegiatan anak hari itu sehingga terjadi kesinambungan pembelajaran di lembaga PAUD dan di rumah. Catatan haruslah selalu positif. Sebuah catatan yang menyatakan “Dino berhasil mengikat tali sepatunya hari ini” atau “Nina berhasil membaca buku hingga selesai secara mandiri” akan membantu orangtua merasa bahwa pendidik tetap berkomunikasi dengan mereka. Hendaknya pendidik mencatat daftar orangtua dan tanggal berapa mereka mengirimkan catatan kepada masing-masing orangtua. Jika memungkinkan lembaga PAUD dapat memiliki kertas catatan yang sudah tercetak dengan kalimat seperti “Berita Gembira”. Contoh kartu penghubung seperti terlampir.
Di samping itu, buku catatan – atau “buku penghubung” - tersebut dapat pula diisi dengan gambaran kegiatan yang dilakukan anak di lembaga PAUD, dan orangtua diharapkan meneruskan stimulasi di rumah yang selaras dengan apa yang diterima anak di lembaga PAUD hari itu. Berikut petunjuk untuk mempersiapkan komunikasi tertulis yang efektif untuk orangtua:
1. Tulislah kalimat yang pendek. Cobalah menuliskan sepuluh kata atau kurang dari sepuluh, dan janganlah pernah membiarkan mereka untuk menuliskan lebih dari dua puluh kata.
2. Tulislah paragraf pendek. Cobalah menuliskan paragraf sekitar enam baris saja.
3. Gunakan kata-kata yang mudah. Jadikan kata-kata yang pendek, familiar menjadi kata-kata yang mewakili maksud pendidik. Gunakan kata-kata atau istilah teknis hanya ketika kata-kata tersebut yang akan dapat menggambarkan pesan secara akurat.
4. Langsung ke tujuan. Nyatakan langsung tujuan pesan Anda dan hindari informasi yang tak relevan.
5. Tulislah sesuatu dengan urutan yang logis. Formula “siapa, apa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana” akan sangat membantu.
6. Jelas dan berhati-hatilah dengan kata-kata seperti kelihatannya, mungkin, barangkali, umumnya, dan biasanya. Berikan gambaran yang jelas tentang apa yang pendidik ingin katakan.
7. Langsung. Berbicaralah kepada setiap pembaca. Katakanlah “Anda diharapkan” atau “mohon lakukan” daripada “orangtua seharusnya”.
8. Gunakanlah kalimat aktif lebih sering daripada kalimat pasif, tempatkanlah subyek di awal kalimat. Contoh, tulislah “Mohon ditandatangani dan kembalikan surat persetujuan jika Anda ingin anak Anda pergi ke kebun binatang” daripada “Surat persetujuan harus ditandatangani oleh orangtua agar anak dapat mengikuti perjalanan ke kebun binatang”.
9. Pendidik supaya mengenali audiens. Pendidik agar bertanya pada dirinya, untuk siapakah catatan/surat itu ditulis, dan seberapa baikkah pembaca memahaminya? Jika pendidik tak yakin, ujikan surat/catatan tersebut kepada beberapa orang yang mewakili target pembaca pendidik. Jika ragu, asumsikan bahwa setidaknya terdapat beberapa pembaca yang kurang bisa memahaminya.
10. Pendidik supaya mengenali diri sendiri. Pendidik agar menjadi dirinya sendiri. Tulislah sebagaimana pendidik berbicara, dan tulislah untuk mengekspresikan – bukan untuk menarik kesan.
11. Tulislah dan tulislah kembali. Tulislah sebuah konsep, kemudian bacalah lagi. Seberapa panjangkah kalimatnya? Seberapa banyakkah kata-kata yang pendidik gunakan? Adakah istilah teknis yang tak dijelaskan? Apakah pendidik menggunakan jargon atau singkatan yang pembaca mungkin tak mengerti? Dapatkah pendidik mengatakan hal yang sama dengan lebih jelas, lebih singkat dan jelas, atau lebih menarik? Minta pula pada orang lain untuk membaca apa yang pendidik tulis. Kemudian tulislah kembali.
Sumber :
Pedoman Penyelenggaraan Program Percontohan PAUD (Replikasi Model Assisompungeng) BP-PAUDNI Regional III Makassar
http://bukuspesial.com/wp-content/uploads/GROUP.png
PROFIL SANGGAR KEGIATAN BELAJAR (SKB) SUMALATA KABUPATEN GORONTALO UTARA
Sejarah Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sumalata diawali dengan terbitnya Peraturan Bupati Gorontalo Utara No. 07 Tahun 2007 Tentang “Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sumalata Dinas Pendidika dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo Utara pada tanggal 10 Oktober Tahun 2007.
Dibanding dengan SKB lain di Kabupaten Gorontalo Utara, SKB Sumalata adakah SKB yang paling Muda. Pada Tahun 2015 ini SKB Sumalata masih menempati kantor yang bangunannya di pinjam dari Dinas Perkebunan Provinsi Gorontalo yang beralamat di Jalan Trans Sulawesi Desa Bulontio Timur Kecamatan Sumalata Kabupaten Gorontalo Utara dengan sarana dan prasarana yang masih terbatas.
Pamong Belajar yang ada pada saat ini, berjumlah 3 orang dan saat ini SKB Sumalata dipimpin oleh Bapak Umar Djalali, S.Pd.
Visi dan Misi
Visi
“ Terwujudnya Program Pendidikan Anak Usia Dini, Non Formal, dan Informal yang Unggul Demokratis, Rasional, Relevan, Menuju Masyarakat Cerdas Mandiri.”
Misi
1. Melaksanakan dan menyelenggarakan Program Percontohan PAUD, Keaksaraan, Kesetaraan PaketA, B,dan C serta kursus.
2. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program Pendidikan Non Formal .
3. Meningkatkan mutu program Percotohan Pendidikan non formal informal sesuai dengan kebutuhan masyarkat.
4. Meningkatkan layanan informasi Pendidikan Non Fomal
5. Melaksanakan peningkatan pelatihan kecakapan hidup bagi masyarkat
6. Meningkatkan jaringan kerja pendidikan Non Formal dengan berbagai pihak terkait program Pendidikan non formal.
Tugas Pokok dan Fungsi
1. Tugas Pokok :
Melaksanakan program percontohan dan pengendalian mutu pelaksanaan program Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal.
2. Fungsi :
Meningkatkan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal (PTK-PNF) melalui fasilitasi dan penyelenggaraan Diklat.
Menyelenggarakan dan mengembangkan aneka program Pendidikan Non Formal dan Informal yang bermutu sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat sebagai upaya mewujudkan program percontohan Pendidikan Non Formal dan Informal.
Mewujudkan masyarakat pembelajar sepanjang hayat dengan mendorong partisipasi dan peran aktif warga masyarakat dalam penyelenggaraan satuan-satuan Pendidikan Non Formal dan Informal.
Melaksanakan Pengendalian mutu Pendidikan Nonformal dan Informa dan dampak pelaksanaan programl.
Memberikan pelayanan informasi Pendidikan Non Formal dan Informal.
Langganan:
Postingan (Atom)

